MATARAM,SAPUNEWS- Bawaslu Provinsi Nusa Tenggara Barat gelar kegiatan Bawaslu Mengajar, kali ini bertempat di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Mataram sebagai bagian dari komitmen memperluas pengawasan partisipatif di kalangan pemilih pemula.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pelaksanaan awal program Bawaslu Mengajar pada tahun 2026, yang dirancang sebagai agenda berkelanjutan untuk memperkuat literasi demokrasi berbasis pendidikan.
Program lBawaslu Mengajar di MAN 3 Mataram dirancang untuk memberikan wawasan komprehensif mengenai prinsip-prinsip demokrasi, tahapan pemilu, potensi pelanggaran yang kerap terjadi dalam proses pemilihan umum, serta peran aktif masyarakat dalam menjaga kelancaran dan integritas setiap tahapan pemilu.
Para pelajar diajak tidak hanya memahami hak memilih, tetapi juga memahami fungsi pengawasan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial sebagai warga negara.
Kegiatan berlangsung secara dialogis dan interaktif. narasumber dari Bawaslu NTB menyampaikan materi yang mencakup regulasi pemilu, contoh kasus pelanggaran yang pernah terjadi, cara mengidentifikasi potensi pelanggaran, serta mekanisme pelaporan yang dapat digunakan oleh masyarakat ketika menemukan indikasi pelanggaran.
Antusiasme siswa terlihat dari partisipasi aktif dalam sesi diskusi dan tanya jawab, yang menunjukkan tingginya ketertarikan generasi muda terhadap isu demokrasi dan pemilu.
Anggota Bawaslu NTB, Hasan Basri, dalam pemaparannya menekankan bahwa kesadaran pengawasan tidak boleh hanya berhenti pada lembaga penyelenggara pemilu.
Menurutnya, pengawasan yang kuat justru lahir dari keterlibatan masyarakat secara luas, termasuk dari lingkungan pendidikan.
,“Pengawasan pemilu bukan kewajiban tunggal Bawaslu. Partisipasi masyarakat, terutama generasi muda, menjadi kunci untuk mencegah pelanggaran dan menjaga integritas demokrasi. Melalui Bawaslu Mengajar, kami ingin menanamkan kesadaran tersebut sejak dini,” ujarnya.
Kepala MAN 3 Mataram, Lalu Mufti Sadri, S.PdI., M.A., menyambut baik pelaksanaan Bawaslu Mengajar dan mengapresiasi Bawaslu NTB yang menjadikan madrasah sebagai mitra strategis pendidikan demokrasi. Ia menilai kegiatan ini sejalan dengan upaya madrasah dalam membentuk karakter siswa yang berintegritas dan bertanggung jawab.
“Kegiatan Bawaslu Mengajar memberikan pembelajaran yang sangat penting bagi siswa kami. Mereka tidak hanya memahami teori demokrasi, tetapi juga peran nyata yang dapat dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat. Ini menjadi bekal berharga dalam pembentukan karakter dan kesadaran sosial siswa,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa pembekalan literasi demokrasi dan pengawasan pemilu di lingkungan madrasah akan membantu siswa lebih bijak dalam menyikapi dinamika politik, khususnya di tengah arus informasi digital yang sangat cepat dan tidak selalu akurat.
Pelaksanaan Bawaslu Mengajar di MAN 3 Mataram menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan serupa yang ke depan akan dilaksanakan di seluruh wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Program ini akan dijalankan secara berjenjang melalui Bawaslu kabupaten dan kota se Nusa Tenggara Barat dengan melibatkan satuan pendidikan di masing-masing daerah, sehingga literasi demokrasi dan pengawasan partisipatif dapat menjangkau pelajar secara lebih luas dan merata.
Melalui kegiatan ini, Bawaslu NTB berharap para pelajar mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing, tidak apatis terhadap pemilu, serta memiliki keberanian untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga proses demokrasi yang jujur, adil, dan bermartabat.
Penanaman nilai pengawasan sejak usia sekolah diyakini akan memberikan dampak positif bagi kualitas demokrasi di Nusa Tenggara Barat secara berkelanjutan


















