sticky1-160×600
sticky2-160×600

THE LEGEND CAP GO MEH DI KALIMANTAN BARAT

Penulis : Umar Abdun

0 196

Cap Go Meh atau hari kelima belas Tahun Baru Imlek merupakan salah satu wahana rekreasi dalam rangka menyambut kemeriahan tahun baru Imlek 2019 ini di Indonesia, dipusatkan di kota Singkawang – Kalimantan Barat.

Perayaan ini sudah menjadi ritual rutin tepatnya di Vihara Tri Dharma Bumi Raya (pusat kota) Singkawang. Dalam memeriahkan Cap Go Meh ini, panitia cap go meh memerlukan sedikit nya lebih dari seribu personil dari seluruh penjuru lapisan warganya bahkan beberapa didatangkan dari luar negeri itu, terurai menjadi beberapa pasukan Naga dan Barongsai serta tambahan atraksi lainnya seperti tatung.

Peserta Tatung dari Australia
Peserta Tatung dari Australia

- Advertisement -

Kata “Imlek” berasal dari dialek Bahasa Hokkian yang berarti “Penanggalan bulan” atau “Yinli” dalam bahasa Mandarin. Tahun Baru Imlek di Tiongkok lebih dikenal dengan sebutan “Chunjie” atau perayaan musim semi. Kegiatan perayaan ini disebut “Guo nian” atau memasuki tahun baru, sedang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan “Kou Nian / Konyan”.

Di Indonesia kebanyakan Tahun Baru Imlek dirayakan juga sebagai perayaan hari lahirnya Kong Hu Chu yang lahir pada tahun 551 SM, sehingga dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan masehi itu berselisih 551 tahun. Jika tahun Masehi saat ini 2019,maka tahun Imleknya menjadi 2019 + 551 = 2570, maka bagi pemeluk Agama Kong Hu Chu , Tao maupun Budha sangat tepat kalau disebut sebagai Tahun Baru Imlek ke 2570.

Menurut Huang Kun Zhang, seorang guru besar Universitas Jinan menyebutkan, barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan. Ternyata upaya itu berjalan sukses hingga akhirnya tarian barongsai pun melegenda hingga kini. Kesenian barongsai diperkirakan masuk di Indonesia pada abad-17, ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan.

 

Bagi masyarakat Tionghoa yang bukan pemeluk ketiga agama diatas, tentunya tidak dilarang untuk turut merayakannya bersama Masyarakat Tionghoa maupun Non Tionghoa lainnya yang mau ikut merayakannya, karena Hari raya ini juga merupakan hari raya tradisi dalam memberikan penghormatan kepada pihak yang lebih tua ataupun kepada orang tuanya.Dalam agama apapun penghormatan kepada yang lebih tua adalah wajib hukumnya, maka tidak perlu khawatir untuk ikut bergembira dan merayakan Tahun Baru Imlek. Tahun Baru Imlek sifatnya hanya dirayakan sebagai meneruskan tradisi, adat dan kebudayaan dan tidak ada kaitannya dengan Agama tertentu ( terutama Agama Kong Hu Chu , Tao maupun Budha )

Untuk kemeriahan wisata Imlek di Singkawang ini Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie menargetkan 1 juta wisatawan datang ke Kota Singkawang untuk menyaksikan perayaan tersebut. Sedangkan Ketua Pelaksana Harian Panitia Festival Imlek dan Cap Go Meh Kota Singkawang 2019, Tjhai Leonardi mengungkapkan bahwa pihaknya juga telah mendaftarkan replika singa ikon kota Singkawang yang memiliki tinggi 8,88 meter dan lebar 3,8 meter ke Museum Rekor Indonesia (MURI).

Dengan menggelar perayaan besar-besaran, lengkap dengan segala aksesori khas Imlek yang serba merah meriah. Hmm…patut kita apresiasi bersama!

Momentum ini sepertinya tak mau disia-siakan oleh warga lokal maupun tamu dari luar daerah maupun mancanegara. Seminggu sebelum perayaan Imlek tingkat pemesanan kamar hotel di Kota Singkawang fully book. Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Singkawang, Supardiyana mengatakan, dari 37 buah hotel yang ada di Kota Singkawang, saat ini pemesanan kamar sudah penuh. “Diprediksikan, mendekati perayaan itu, semua hotel yang ada di Kota Singkawang tidak bakal mampu menampung lonjakan pengunjung yang ingin menginap,” ujarnya.

Sedangkan untuk atraksi tatung, para dukun Tionghoa yang kerasukan arwah leluhur selalu mengikuti Pawai Perayaan Cap Go Meh, untuk menjaga agar tatung selalu siap dan bugar serta menghindari kegagalan parade tusuk badan itu. Dimana menurut wisatawan dari Shanghai Cici Zhao yang sedang berkunjung ke Dapur Organik di Desa Sungai Nipah mengatakan “kalo atraksi tatung ini bukan budaya china yg sesungguhnya, ini hanya terjadi di Indonesia Saja, namun ini merupakan aset luar biasa yang mesti terus dilestarikan bahkan harus terus dikembangkan!

Untuk pasukan naga dengan panjang tubuh naga mencapai 750m itu, cukup menarik perhatian pengunjung karena disamping liukan tarian naga yang kadang mendebarkan pengunjung di kiri dan kanan jalan, juga mulutnya sering menganga seolah akan melahap seluruh kesedihan dan kegalauan serta kesulitan kehidupan di tahun lalu, sehingga hampir seluruh pengunjung histeris dan berlinang air mata kegembiraan menyambut tahun baru imlek 2019 yang disimbolkan sebagai Shio BABI TANAH ini. Yaah semoga apa yang digambarkannya tentang telah lewatnya masa-masa sulit di tahun lalu dan menyongsong tahun kemenangan/kebahagiaan serta kemakmuran di tahun ini, menjadi benar telah dilahap oleh NAGA yang mana pada hari ini telah dilakukan ritus pembakaran roh untuk dikembalikan ke khayangan….

 

Salam pena – ua

 

 

Komentar
Loading...